Kepala Dinkes Jawa Timur, Kohar MS, bersama Bupati Lamongan, Fadeli

Lamongan, Pasmedia
Jumlah balita kekurangan gizi  atau  balita stunting di Kabupaten Lamongan, pada Tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Bahkan,  saat ini tingkat penurunannya di bawah balita stunting di jawa timur dan nasional.

Hal itu disampaikan oleh kepala dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso, usai paparan program kesehatan di Guest House Pemkab Lamongan, Jum’at (14/7).

Dipaparkan Kohar, berdasarkan hasil survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016, Ada 25,2 persen bayi usia 0 hingga 59 bulan di Lamongan yang berstatus gizi balita stunting, atau kurang gizi. Angka ini di bawah Jawa Timur yang sebesar 26,1 persen dan nasional yang 27 persen.

Namun, survey PSG itu masih terdapat perbedaan dengan hasil survey dari TNP2K. Menurutnya, perbedaan hasil yang diperoleh itu dikarenakan metodologi yang digunakan tidak sama.

” Perbedaan dengan angka dari TNP2K mungkin hanya karena persoalan metodologi saja, “ ujar Kohar.

Survey PSG, seperti diungkapkan Kohar merupakan sampling yang menggunakan antropometri. Yakni mengukur status gizi berdasarkan tinggi dan berat badan dan umur pada anak-anak balita.

Penurunan bayi dengan status stunting di Lamongan cukup signifikan. Tahun 2014 masih ada 31,5 persen dan angka Jawa Timur 29 persen. Sedangkan hasil survei PSG tahun 2016, kembali turun menjadi 25,2 persen, dan Jatim di angka 26 persen, sebutnya.

” Sementara angka stunting kini bahkan sudah di bawah rata-rata Jawa Timur dan nasional,” tambahnya.

Kedepan saran Kohar, yang bisa dilakukan Pemkab Lamongan dalam upaya penuntasan status bayi stunting adalah dengan melakukan pemetaan detail per kecamatan. Untuk kemudian bisa dilakukan upaya pemulihan gizi.
” Sehingga penggunaan istilah gizi buruk kronis mungkin perlu diluruskan,” pungkasnya. (sf)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here