Lamongan – Sebuah organisasi otonom (ortom) baru bentukan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Lamongan dengan nama Badan Koordinasi Majlis Ta’lim Masjid (BKMM), yang baru dilantik akan menjalankan program unggulan.

Program unggulan tersebut akan fokus pada pemberdayaan umat dan melaksanakan pelatihan pemulasaraan jenazah bagi perempuan

Ortom yang mengurusi majlis ta’lim se Lamongan dengan masa khidmat 2018-2023 tersebut dilantik Ketua PW BKMM DMI Jawa Timur, Nur Jannah di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Lamongan, Kamis (19/4).

Ketua PD BKMM DMI Lamongan Nurotun Mumtahanah usai dilantik mengatakan organisasinya merangkul beberapa elemen masyarakat. Seperti organisasi kemasyarakatan, baik dari NU maupun Muhammadiyah.

Termasuk beberapa orang pengurus dari unsur pemerintahan juga dirangkul, untuk membantu kerja PD BKMM.

“Organisasi ini kami niati untuk tidak ada sekat, sehingga semuanya, baik itu dari NU maupun Muhammadiyah dirangkul. BKMM ini juga tidak hanya berisi generasi tua, tapi juga yang muda untuk kaderisasi, ” kata dia.

Nurotun mengungkapkan program pertama yang dilakukan adalah pembentukan BKMM di seluruh 27 kecamatan di Lamongan. Kemudian mengadakan pengajian rutin dan pengembangan ekonomi keumatan.

Selain itu juga akan melaksanakan program pelatihan pemulasaraan jenazah bagi perempuan. Karena menurutnya saat ini masih jarang perempuan yang memiliki pengetahuan memandikan jenazah.

“Kami juga akan merancang kegiatan literasi. Dengan harapan semoga program kami dapat disinergikan dengan pemerintah,” lanjutnya.

Sementara Bupati Fadeli sangat mengapresiasi niatan baik PD BKMM DMI Lamongan untuk kompak, merangkul semuanya. Sehingga bisa membantu berbagai program Pemkab Lamongan di berbagai bidang.

“Akan sangat bagus jika rencana pemberdayaan umat ini dilaksanakan dengan baik. misalnya dengan membentuk koperasi. Sehingga programnya nanti tidak melulu hanya melaksanakan pengajian, ” kata Fadeli memberi saran.

Fadeli meminta PD BKMM DMI Lamongan turut membantu mensosialisasikan Gerakan 1821. Dia mengungkapkan saat ini baru sekitar 25 persen yang konsisten laksanakan Gerakan 1821.

“Kesannya mungkin sepele. Hanya mengajarkan anak berhenti bermain gawai dan menonton tv di jam 18.00 hingga 21.00. Namun manfaatnya luar biasa bagi tumbuh kembang anak dan memupuk hubungan orang tua dengan anak, ” katanya berpesan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here