Oleh : Romadloniyah Ning Tiyas

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang)

Semua orang tua menginginkan naknya memiliki karakter yang baik, sukses dan berakhlak mulia, sopan dalam tatanan etika dan estetika, maupun prilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan setiap anak membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua dalam setiap aktivitas yang dikerjakan sehari-hari. Tanpa adanya bimbingan dan arahan anak tidak akan bisa tumbuh dengan karakter yang baik, anak tidak tahu arah yang akan dikerjakan dan tujuan yang ingin dia dicapai.

Oleh karena itu setiap anak membutuhkan bimbingan dan arahan untuk mengantarkan mereka kedalam kehidupan sehari-hari, agar anak dapat beraktifitas tidak hanya berdasarkan kemauan, dan kesenangan tanpa memikirkan baik buruknya serta resikonya.

Pendidikan informal merupakan sarana pengembangan karakter dalam prakteknya, kegiatan ini melibatkan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat luas. keluarga sebagai satuan pendidikan informal, sekaligus sebagai satuan pembentuk karakter.

1. Pendidikan dan Perkembangan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga (informal)

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada anak sehingga anak mampu mengeluarkan potensi yang berada dalam dirinya untuk keberlangsungan hidupnya di masa mendatang. Sedangkan karakter adalah sikap pribadi yang stabil hasil proses perbuatan secara progresif dan dinamis, pembauran antara pernyataan dan tindakan.

Karakter berupa kualitas kepribadian ini bukan barang instan, akan tetapi melalui proses pendidikan yang diajarkan secara sungguh-sungguh, serius, konsisten, dan kreatif.

Pendidikan keluarga disebut juga pendidikan utama. Sebab, segenap potensi yang dimiliki anak akan terbentuk dan sebagian dikembangkan.

Untuk mengantisipasi kualitas dan kuantitas pendidikan karakter di lingkungan keluarga, maka dalam prakteknya harus melibatkan semua bagian yang terkait dengan pendidikan kartakter anak, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, maupun media massa. Karena semua bagian ini berpengaruh langsung terhadap perkembangan anak.

Pendidilkan anak dalam keluarga akan menentukan seberapa jauh seseorang anak pada prosesnya menjadi orang yang lebih dewasa, memiliki komitmen terhadap nilai moral tertentu dan menentukan bagaimana  dia melihat dunia di sekitarnya.

Untuk membentuik karekter anak diperlukanm syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Menurut megawangi dalam Muslich (2011), ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding (kelekatatan psikologis dengan ibunya), rasa aman dan stimulasi fisik dan mental.

Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) adalah dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan karakter anak dan aspek ini juga berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain pada anak. Karena itu, ibu harus memanfaatkan waktu dan perhatian yang cukup demi pembentukan karakter anak ke arah yang baik.

Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang berubah ubah akan mengganggu perkembangan emosi anak, termasuk di dalamnya pengasuh bayi yang berganti-ganti. Kebutuhan rasa aman ini penting bagi pembentukan karakter anak.

Kebutuhan akan simulasi fisik dan mental, juga merupakan aspek kebutuhan penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anak. Adanya kerja sama antara orang tua dan anak, adanya bimbingan dan pengarahan orang tua, adanya keterbukaan dari anak namun bertanggung jawab dan mandiri.

2. Pendidikan dan Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Sekolah (pendidikan formal)

Untuk mengantisipasi dan memperbaiki karakter anak, salah satu diantaranya melalui pendidikan karakter di sekolah (pendidikan formal). Pendidikan karakter harus disosialisasikan, diinternasionalisaskan, dan diintensifkan sejak dini di semua level kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lingkungan sekolah dapat sebagai wadah pendidikan yang baik bagi pertumbuhan karakter siswa. Kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, semuanya dapat di integrasikan dalam program pendidikan karakter Secara langsung.

Pembentukan diri dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kesediaan para siswa untuk belajar. Menyemangati kemampuan mereka agar dapat bekerja keras, memiliki komitmen keunggulan, dan penghayatan akan nilai kerja yang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain.

Guru merupakan aktor sosok yang menjadi idola bagi peserta didik. Guru sebagai suri tauladan. Keberadaan guru sebagai penggerak pendidikan. Baik buruknya pendidikan sangat tergantung kepada sosok guru karena sampai sekarang fungsi guru dalam dunia pendidikan tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat diganti dengan alat secanggih apapun terutama pendidikan pada jenjang (SD).

Sikap dan prilaku guru sangat membekas dan mempengaruhi diri peserta didik sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi suri tauladan peserta didik. Ucapan guru merupakan ucapan yang paling benar dihadapan peserta didik.

Fungsi guru ini adalah multi fungsi. Ia tidak hanya sebagai pendidik, tapi juga sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaru model dan teladan, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan untuk lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.  Karena itu, guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karkter peserta didik.

3. Mensinergikan Pendidikan Informal dan Formal untuk Membangun karakter Anak

Sebenarnya dapat disepakati bahwa keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Orang tua berperan membentuk karakter sekaligus menambah nilai-nilai pendidikan. Keberhasilan anak dapat berubah menjadi kepribadian berpendidikan karakter bukan semata-mata ditemukan dalam lingkungan sekolah.

Keluarga harus menata kehidupan keluarga yang kondusif agar tercipta rasa edukatif sekaligus terbentuknya karakter yang positif terhadap anak. Keluarga harus dibentuk sedemikian rupa agar dapat membantu setiap anak mendapatkan pendidikan dan pengetahuan tambahan yang tidak didapatkan dalam lingkungan sekolah.

Antara pendidikan di lingkungan keluarga (informal) dan lingkungan sekolah (formal) serta lingkungan masyarakat (non formal) tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Karena ketiga pusat pendidikan ini saling medukung dan dan saling melengkapi dalam menumbuhkan karakter pendidikan anak.

Pendidikan karakter dapat dilakukan secara tepadu bahkan lebih baik bila memadukan kegiatan perndidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal lingkungan sekolah sehingga aktivitas sehari-hari anak tetap dalam pengawasan pendidikan karakter.

Pengembangan pendidikan karakter di sekolah merupakan bagian dari usaha sekolah untuk memenuhi orang tua untuik membangun, menciptakan, dan membentuk pendidikan yang berkarakter. Antara sekolah dan orang tua merupakan hubungan kemitraan yang bersifat saling mengisi, serta mendukung, dan saling belajar, serta kerjasama untuk kemajuan anak.

Hubungan sekolah dengan orang tua siswa adalah hubungan yang bersifat transformaif, yaitu hubungan yang lebih didasari oleh kontrak sosial dan kontrak moral untuk maju dan berkembang bersama. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here