foto : Indah Suci Ning Ati

OPINI – Tahun 2019 benar-benar menjadi hajatan politik nasional terbesar di Indonesia. Sebab  sejak jaman kemerdekaan baru kali pertama diselenggarakannya pemilihan  Presiden dan Wakil Presiden beserta dengan DPR,DPD dan DPRD Provinsi, Kab/Kota, bersama dalam satu waktu.

Sudah barang tentu, dalam ajang politik tersebut figur para calon yang menjadi kontesdtan dalam Pemilu 2019 sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan yang akan datang.

Ketika saya berdiskusi dengan sahabat-sahabat dan adek-adek mahasiswa dalam sebuah kesempatan, kepemimpinan nampaknya menjadi bahan yang menarik untuk dibicarakan. Dan itu sangat wajar, sebab setiap orang mempunyai naluri untuk menjadi pemimpin. Bahasan awal langsung masuk pada regenerasi pemimpin dalam  organisasi. Saat ini seringkali dalam sebuah organisasi termasuk organisasi mahasiswa tidak bisa terlepas dari namanya politik praktis. Apalagi menjelang tahun politik saat ini. Semua seolah berlomba untuk ikut andil bagian atau menemukan momen bereksistensi. Apakah itu salah, tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

Namun budaya politik di Indonesia yang masih lazim dijalankan oleh sebuah kelompok atau organisasi tertentu yang terafiliasi dengan kepentingan politik, seringkali memunculkan permasalahan atau konflik di internal organisasi tersebut, bahkan bisa meluas di luar organisasi. Kenapa ini bisa terjadi ? Karena kita sering memakai politik Identitas, dan sebenarnya itu sudah ketinggalan jaman di Indonesia. Apalagi penerapan politik identitas tidak memberikan pemahaman terhadap pemilih secara obyektif sosok figur yang akan maju sebagai calon.

Saya mengatakan kenapa politik indentitas kita masih banyak memilih pemimpin karena satu agama dengan kita, satu suku dengan kita bahkan satu daerah dengan kita. Indikator utamanya kita masih melihat itu. Bukan melihat visi dan misi dari calon dan track record nya (rekam jejak). Apakah budaya politik seperti itu boleh, saya bilang sah-sah saja dan tidak ada yang melarang. Semua orang berhak untuk memilih pemimpin dari hati nuraninya.

Namun yang salah ketika politik identias di gunakan untuk menyerang salah satu calon pasangan lawannya. Karena akan membuat “SARA” dan kampanye hitam.

Politik identitas yang masih berlaku di indonesia seperti pedang bermata dua. Disatu sisi bisa membangun bangsa ini dengan memilih kaum mayoritas yang kita kehendaki sesuai dengan keinginan para kaum mayoritas, namun disatu sisi dapat menghancurkan salah satu generasi anak bangsa yang punya potensi  dalam hal berkarir.

Kenapa kita masih menggunakan politik identitas? Saya mengatakan kepada teman-teman bahwa sebagian besar masyarakat kita belum teredukasi dengan baik tentang pendidikan politik indonesia. Kaum kapitalis yang punya kepentingan dengan Indonesia bisa memainkan peranan penting dalam hal membuat kita harus memilih calon sesuai dengan keinginan mereka tanpa melihat siapa pemimpinnya. Dan yang paling menarik bahwa selagi kita mencampurkan agama kedalam politik maka akan muncullah politik identitas.

Media sosial nampaknya menjadi sarana ampuh dalam mengkampanyekan gagasan dan program seorang figur kandidat yang berlaga dalam pesta demokrasi. Saat ini bagi generasi milineal zama now bahwa media sosial merupakan salah satu alat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping untuk mengisi konten-konten pribadi juga di gunakan untuk memantau para pemimpin bangsa.

Jika tahun politik ini para calon ingin menang berkampanyelah para politisi melalui media sosial. Berkampanye yang sehat dengan adu program dan adu gagasan. Jangan lawan politik di hajar dengan kampanye-kampanye hitam. Jika takut gagal dan kalah maka jangan jadi politisi. Kerja saja di instansi Pemerintah sebagai pegawai negeri sipil untuk mengurusi Negeri ini.

Mahasiswa merupakan salah satu aset bangsa saat ini. Nasib bangsa ini salah satu nya suatu saat nanti ada ditangan mereka. Untuk itu, kepada mahasiswa saat inilah kita menggantungkan nasib Bangsa Indonesia kedepan. Sehingga kepaqda mereka sudah saatnya kita bersama-sama mengkampanyekan perbedaan dalam pilihan politik adalah warna terindah dalam demokrasi. Jadi, apapun nanti warna politik kita jangan sampai memecah belah persaudaraan. Kita boleh beda politik tapi kita tetap saudara.(Indah Sucining Ati*)

 

Penulis adalah Aktifis perempuan yang juga pegiat hukum  di Lamongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here