Gresik (pasmediaonline.com) – Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang adanya La Nina yang akan terjadi pada bulan Juli hingga September 2016, membuat PT Pupuk Indonesia (Persero) menerapkan strategi guna menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi menjelang musim tanam kedua 2016 dengan total stok mencapai 1,3 juta ton. Jumlah ini telah jauh melebihi ketentuan stok yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu minimal untuk kebutuhan 2-3 minggu kedepan.

Dan stok pupuk tersebut saat ini sudah tersebar di gudang-gudang lini III tingkat kabupaten di seluruh Indonesia.

Dirut PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat, menjelaskan ada 5 strategi utama, yakni pertama, hasil produksi pupuk diutamakan untuk kebutuhan subsidi. Kedua, menyiapkan stok minimal 2-3 minggu kedepan di setiap gudang lini III. Ketiga, menambah jumlah gudang untuk meningkatkan kapasitas stok. Keempat, menambah petugas lapangan di setiap kabupaten guna memonitor stok pupuk. Dan kelima, meningkatkan koordinasi dengan dinas terkait di seluruh daerah.

“Stok pupuk ini dapat dipantau melalui website Pupuk Indonesia dan kami akan terus meningkatkan kualitas sistem monitoring ini,” ujar Aas Asikin Idat.

Ia menambahkan, bahwa PT Pupuk Indonesia akan melayani petani melalui kios-kios resminya. Karena itu petani dihimbau untuk membeli pupuk bersubsidi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu sesuai dengan nama dan alamat yang tercantum dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dari kelompok tani.

Sekedar info, La Nina merupakan kebalikan dari fenomena El Nino. Jika El Nino adalah naiknya suhu permukaan air laut, maka La Nina adalah turunnya suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik. Dampaknya, jika El Nino menyebabkan panas (kemarau), maka La Nina menyebabkan hujan di sejumlah wilayah di Pasifik seperti Indonesia, Malaysia, dan Australia.

Karenanya, PT.Pupuk Indonesia menerapkan strategi  untuk antisipasi atas melonjakknya kebutuhan pupuk bersubsidi selama terjadinya fenomena La Nina yang diwarnai dengan hujan (walaupun di tengah musim kemarau). Hal ini mengingat sebagian besar sawah di Indonesia merupakan sawah tadah hujan. (ren)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here