Lamongan– Beban masyarakat Kabupaten Lamongan bakal bertambah, khususnya  pengguna air bersih yang dikelola perusahaan plat merah. Hal itu seiring rencana dinaikkannya tarif  Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lamongan. Disinyalir kenaikan tersebut  guna memberikan setoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Direktur PDAM Lamongan, Ali Mahfudi, berdalih , tingginya biaya operasional adalah alasan dinaikannya tarif kepada pelanggan PDAM. Apalagi  selama Lima tahun terakhir PDAM belumn pernah melakukan kenaikan

‘’Jangan dikaitkan (setor PAD) karena sebelum dinaikkan sudah ada komitmen untuk menyumbang PAD,” ujarnya.

Menanggapi adanya sumbangsih terhadap PAD, Ali menambahkan, ada mekanisme khusus dalam memberikan sumbangsih ke daerah. Dia mencontohkan bila PDAM berdasarkan hasil audit dinyatakan untung dan cakupan pengembangan salurannya 80 persen. Saat ini, wilayah cakupan PDAM masih 40 persen. “Tapi kita sudah yakin bisa menyumbang PAD tahun ini,” katanya.

Terpisah, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lamongan, Hary Pranoto membenarkan ada pengajuan PAD  dari BUMD dalam hal ini PDAM Lamongan terhadap APBD tahun 2018.

‘’Kalau tahun ini memang akan menyetor sebesar Rp 1 miliar,” ujar Hary Pranoto.

Dia menjelaskan, perusahaan daerah memang diharuskan menyetor keuntungan sebagai sumbangsih ke daerah. Meskipun, perusahaan itu bergerak di bidang sosial. Besarannya disesuaikan kemampuan masing – masing perusahaan.

Untuk perhitungannya, Hary menilai setiap perusahaan memiliki cara berbeda. Secara teknis, dia mengaku tidak mengetahui detail. Alasannya, BUMD hanya mengajukan besaran ajuan PAD. “Bapenda hanya menerima sesuai dengan usulan perusahaan,” lanjutnya.

Menurut Hary, ada beberapa perusahaan pelat merah yang sudah menyetorkan PAD. Di antaranya PD pasar dan Aneka Usaha. ‘’Selama ini dari perusahaan daerah paling besar dari PD Pasar,” katanya. (fd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here